
Akhir dari sebuah penantian panjang
Bukan merasa cemburu membabi buta tentang ini semua, tapi aku memang benar – benar tidak kuat lagi menjalani kehidupanku bersamanya. Maaf kalo akhirnya aku menyerah, maaf kalo akhirnya aku berpaling darinya. Aku hanya tidak ingin dijadikan boneka mainan. Penantianku akan dirinya itu sudah panjang dan membuatku berjalan di sebuah jalan rapuh yang tidak pasti. Terima kasihku kuucapkan kepadanya disaat dia meyakinkanku, terima kasih banyak jikalau selama ini dirinya berjuang untukku. Kupikir itu namanya bukan perjuangan dan tidak akan pernah ada sebuah perjuangan yang bisa diukur oleh apapun.
Oh iya, aku harus memberikan cerita yang sebenarnya tentang apa yang telah terjadi. Suatu ketika, di bulan april aku merasa dirinya tidak lagi bersamaku. Dia mengecewakanku bahkan menyakitiku di jarak yang cukup jauh. Antar pulau, yang sama sekali aku tidak bisa berkutat dan berpindah ke domisili dia waktu itu. Dan sekarang lah waktunya. Akan tetapi, lambat laun aku merasakan ada kejanggalan bahwa aku sudah tidak dihiraukan lagi, dan akhirnya aku merasakan seperti makhluk nomor terakhir yang dia pentingkan dan seorang wanita datang padaku. Waktu itu, aku sedang memperbaiki mouse ku yang sedang rusak di kosan. Wanita yang sudah lama berteman dengan ku yang sebenarnya juga berdomisili disini tiba – tiba muncul untukku. Aku merasakan perhatian – perhatian dia dan getaran itu muncul ketika dia sedang tidak ada buatku. Akhirnya, wanita ini yang menemaniku di tengah bulan april. Hingga kami menjalin sebuah hubungan yang dia sama sekali tidak mengetahuinya. Berkali – kali aku merasakan bahwa sebenarnya diriku ini sedang dalam masalah. Aku pernah berkata kepada seorang temanku, “sepandai – pandainya menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga”.
Akhirnya di saat – saat aku UAS dan dia pergi ke luar negeri, aku baru bisa merasakan kesendirian itu. Merasakan bahwa aku manusia jahat selama ini, aku memang tidak bisa seperti ini terus buatnya. Aku juga tidak mungkin melukai hati wanita yang tidak berdosa ini. Akhirnya, ku akhiri sudah hubungan itu bersama wanita ini. Apapun alasannya, itu aku buat – buat sajalah karena aku merasa bahwa dia pasti sakit hati apabila mengetahui ini. Aku ga bisa menjalani dua kehidupan berbeda. Akhirnya waktu itu pun tiba. Pas sekali di saat dia meragukan kejelasan hubungan ini bahwa kita berbeda dan dia bilang bahwa dirinya tidak sanggup lagi melanjutkan ini, akhirnya aku bilang bahwa aku disana menjalin hubungan baru dan aku mengakhirinya karena dirinya juga.
Tetapi, setelah kejadian itu aku merasakan sebuah cinta palsu. Fake Love. Yaa sebuah permainan cinta. Dia memang sedang dekat dengan seorang pria berdomisili di Istanbul, Turki. Aku tidak membatasi dia untuk bergaul dengan siapapun. Aku cuma ingin mengetahui siapa pria itu. Dan aku membaca inbox facebooknya. What the hell is this guy? Dia memberikan perhatian lebih, membuat aku tidak habis berpikir bahwa dirinya sangat pintar berkata – kata sehingga dia yang disana merasa terseok – seok berdecak kagum. Meskipun sang pria ini sudah memiliki wanita tapi aku tidak menyangka dia berkata seperti itu.
Oh iya, malam sudah semakin larut dan ketika aku menulis ini, waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Aku memang tidak bisa tidur dan memikirkan ini. Yang penting mengikhlaskan dia pergi saja. Oke, aku tidak ingin pusing lagi dengan ini semua, terserah dirimu lah kalo aku tidak berjuang atau apapun. Aku sudah cukup tersakiti oleh ini semua. Maafkan aku yang tak sempurna. Kalopun dirinya ingin memposisikan aku sebagai apapun atau tidak sama sekali, itu tidak masalah bagiku dan ingat, aku tidak ingin dipermainkan. Aku hanyalah sekecil manusia yang tidak luput dari kesalahan – kesalahan besar yang sebenarnya aku mampu untuk yang terbaik, tapi alangkah disayangkan apabila dirinya tidak ingin melihat karya – karya terbaikku tercipta.
Semoga hari depan lebih baik dari hari ini. Gud morning all. Aku sudah merelakan dirimu hari ini, apapun yang terjadi, kamu tak terlupakan. Dan aku sudah menganggap kita berteman atau lebih dari seorang kakak sekalipun. Aku sanggup dan tidak ingin mengungkit kejadian yang telah berlalu.
Akhir kata, aku tidak akan memilih keduanya. Maafkan egoku ini. Semoga dirinya bahagia bersama orang lain yang pantas untuknya. Putuskan hubungan ini secepatnya. Bye.

0 komentar:
Post a Comment